Ketika para pelancong check-in ke hotel yang menghadap ke Mediterania, berjalan-jalan di reruntuhan kuno, atau melewati bandara internasional yang sibuk, mereka jarang membayangkan tempat-tempat ini menjadi sasaran perang. Namun selama setengah abad terakhir, infrastruktur pariwisata—mulai dari hotel mewah hingga situs warisan UNESCO dan pusat penerbangan sipil—semakin sering menjadi sasaran konflik bersenjata.
Pola ini telah membuat para pemimpin pariwisata khawatir, yang memperingatkan bahwa peperangan modern mengikis anggapan lama bahwa lokasi wisata adalah ruang netral. Hotel-hotel telah dibom, bandara-bandara direbut atau dihancurkan, dan monumen-monumen budaya sengaja dihancurkan.
Sekarang World Tourism Network (WTN) menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Pariwisata PBB untuk menetapkan aturan global yang melarang serangan terhadap infrastruktur pariwisata selama perang. Organisasi tersebut berpendapat bahwa hotel, situs warisan budaya, dan bandara sipil harus menerima perlindungan yang serupa dengan rumah sakit dan fasilitas kemanusiaan.

Seruan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik yang meluas di beberapa wilayah—termasuk Timur Tengah—kembali membahayakan lokasi-lokasi wisata.
Aksi Mogok Hotel di Beirut Menimbulkan Kekhawatiran
Minggu lalu serangan rudal menghantam Hotel Ramada Plaza di Raouche, Beirut. distrikSerangan itu menewaskan beberapa orang dan melukai lainnya. Pejabat Israel mengatakan serangan itu menargetkan agen-agen yang terkait dengan Iran yang diduga menggunakan gedung itu sebagai lokasi pertemuan.
Serangan itu terjadi di salah satu distrik wisata paling terkenal di Beirut yang menghadap Laut Mediterania. Dikenal dengan kafe-kafe tepi laut, hotel-hotel, dan pemandangan Pigeon Rocks, lingkungan ini biasanya sering dikunjungi oleh wisatawan dan pelaku bisnis.
Serangan itu mengejutkan industri pariwisata karena menunjukkan betapa cepatnya lokasi wisata sipil dapat menjadi bagian dari medan perang. Analis keamanan mengatakan hotel dapat menjadi sasaran ketika aktor militer atau intelijen menggunakannya untuk pertemuan atau penginapan sementara.
Namun, para ahli pariwisata memperingatkan bahwa konsekuensi dari penyerangan lokasi-lokasi tersebut meluas jauh melampaui tujuan militer langsung. “Hotel adalah infrastruktur sipil. Ketika hotel diserang selama konflik, korbannya seringkali adalah wisatawan biasa, pekerja hotel, dan penduduk setempat,” kata seorang analis pariwisata.
Sejarah Panjang Hotel di Tengah Baku Tembak
Serangan di Beirut hanyalah yang terbaru dalam sejarah panjang serangan yang melibatkan hotel selama konflik dan kampanye terorisme.
Salah satu contoh paling awal terjadi di 1975, ketika militan Palestina merebut SHotel Avoy di Tel Aviv Setelah menyusup ke Israel melalui laut, para penyerang menyandera dan menuntut pembebasan tahanan Palestina.
Pasukan komando Israel akhirnya menyerbu gedung tersebut, mengakhiri pengepungan tetapi meninggalkan beberapa sandera dan tentara tewas. Serangan itu menunjukkan bagaimana hotel—yang sering dipenuhi pengunjung internasional—dapat menjadi target simbolis selama kekerasan politik.
Tiga dekade kemudian, hotel-hotel kembali menjadi fokus salah satu serangan teror paling mematikan di Timur Tengah.
In November 2005Serangan bom bunuh diri terkoordinasi menghantam tiga hotel besar di Amman, Yordania:
- Grand Hyatt Amman
- Hotel Radisson SAS Amman
- Days Inn Amman
Serangan itu menewaskan sekitar 60 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya terluka..
Seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan bahan peledak di dalam pesta pernikahan di ballroom Radisson SAS, menewaskan puluhan tamu. Para penyelidik kemudian mengatakan bahwa hotel-hotel tersebut dipilih karena pernah menjadi tempat menginap para diplomat asing, konferensi internasional, dan pengunjung dari Barat.
Hotel juga menjadi sasaran serangan yang bertujuan untuk merusak perekonomian pariwisata.
In Oktober 2004Sebuah bom truk meledak di Hotel Taba Hilton di Semenanjung Sinai, Mesir, sebagian bangunan runtuh dan menewaskan 34 orang, termasuk wisatawan dari berbagai negara.
Kelompok-kelompok militan mengaku bertanggung jawab dan mengatakan bahwa mereka menargetkan sektor pariwisata Mesir, salah satu sumber pendapatan terpenting negara itu.
Hotel terkadang juga digunakan untuk operasi intelijen. Di 2010Komandan Hamas Mahmoud al-Mabhouh dibunuh di sebuah ruangan di Hotel Al Bustan Rotana di Dubai, dalam sebuah operasi yang secara luas dikaitkan dengan agen intelijen asing.
Kasus ini menyoroti bagaimana hotel sering berfungsi sebagai ruang pertemuan netral bagi para diplomat, jurnalis, dan petugas intelijen.
Infrastruktur Pariwisata di Luar Hotel
Infrastruktur pariwisata jauh melampaui hotel. Ini termasuk bandara, situs warisan budaya, museum, pelabuhan kapal pesiar, dan pusat kota bersejarah. Banyak dari lokasi-lokasi ini juga menjadi sasaran atau korban perang.
Salah satu contoh paling dramatis terjadi selama Perang Rusia-Ukraina, ketika beberapa bandara sipil utama diserang atau direbut.
Diantaranya adalah:
- Bandara Hostomel dekat Kyiv
- Bandara Internasional Donetskt
- Bandara Internasional Mariupol
- Bandara Kherson
Fasilitas-fasilitas ini dibom atau mengalami kerusakan parah selama pertempuran.
Bandara merupakan target strategis karena berfungsi untuk keperluan sipil dan militer. Bandara dapat digunakan untuk mengangkut pasukan, perbekalan, dan bantuan kemanusiaan. Namun, kehancurannya juga dapat mengisolasi negara dan melumpuhkan pariwisata serta perjalanan internasional. Kerusakan pada bandara Ukraina secara efektif menghentikan pariwisata internasional di negara tersebut.
Warisan Budaya Terancam
Mungkin serangan paling mengejutkan terhadap situs wisata melibatkan penghancuran warisan budaya secara sengaja.
Situs warisan UNESCO—yang diakui sebagai bagian dari warisan budaya bersama umat manusia—semakin sering menjadi sasaran konflik ideologis atau politik.
Salah satu kasus yang paling terkenal terjadi di 2001, ketika Taliban menghancurkan Buddha Bamiyan Di Afghanistan. Diukir di tebing lebih dari 1,500 tahun yang lalu, patung-patung raksasa itu termasuk di antara monumen Buddha terpenting di dunia. Penghancurannya mengejutkan komunitas global dan dikecam secara luas sebagai serangan terhadap warisan dunia.
Baru-baru ini, kelompok-kelompok ekstremis melakukan penghancuran sistematis terhadap situs-situs arkeologi di Irak dan Suriah.
Selama pendudukan wilayah antara 2014 dan 2017ISIS menghancurkan monumen-monumen utama di situs Warisan Dunia UNESCO. Palmyra di Suriah.
Di antara bangunan yang diledakkan adalah... Kuil Baalshamin, sebuah tempat suci peninggalan zaman Romawi yang telah berdiri selama hampir dua ribu tahun.
Para militan ISIS juga menghancurkan kota kuno Asyur dengan buldoser. Nimrud di Irak dan melakukan vandalisme Museum Mosul, menghancurkan patung dan menjarah artefak. UNESCO menggambarkan tindakan-tindakan ini sebagai kejahatan perang dan menuduh para militan berupaya menghapus sejarah.
Kerusakan tersebut juga memberikan pukulan berat bagi pariwisata di wilayah tersebut. Sebelum perang Suriah, Palmyra adalah salah satu situs arkeologi yang paling banyak dikunjungi di Timur Tengah.
Afrika dan Penghancuran Budaya
Perusakan warisan pariwisata tidak hanya terbatas di Timur Tengah.
In 2012Para militan menghancurkan beberapa mausoleum bersejarah di Timbuktu, Mali, sebuah kota yang terdaftar di UNESCO dan dikenal karena arsitektur Islam kunonya. Serangan itu sangat serius sehingga Pengadilan Pidana Internasional Kemudian, seorang pemimpin militan diadili atas kejahatan perang terkait penghancuran budaya.
Sudan juga mengalami kerusakan warisan budaya selama konflik sipil yang sedang berlangsung.
Museum-museum di Khartoum—termasuk Museum Nasional Sudan—dijarah selama pertempuran, dengan artefak dicuri dan diselundupkan keluar negeri. Lebih dari dua puluh museum dan lembaga budaya dilaporkan mengalami kerusakan.
Mengapa Lokasi Wisata Menjadi Target?
Para ahli mengatakan infrastruktur pariwisata rentan dalam perang karena beberapa alasan. Hotel dan bandara seringkali menempati lokasi strategis di kota-kota besar. Bangunan-bangunan tersebut berukuran besar dan dilengkapi infrastruktur komunikasi serta akses transportasi.
Dalam beberapa kasus, aktor militer atau intelijen untuk sementara menggunakan lokasi tersebut untuk pertemuan atau penginapan. Ketika ini terjadi, bangunan tersebut dapat menjadi sasaran yang sah berdasarkan hukum perang. Lokasi wisata juga memiliki makna simbolis.
Menghancurkan monumen terkenal atau menyerang hotel mewah dapat menarik perhatian media global dan mengirimkan pesan politik.
Faktor lainnya adalah dampak ekonomi. Pariwisata merupakan sumber pendapatan utama bagi banyak negara. Menyerang infrastruktur pariwisata dapat merusak perekonomian dan mengurangi jumlah pengunjung asing.
Industri Pariwisata Mendorong Perlindungan
Kekhawatiran tentang risiko-risiko ini telah mendorong para pemimpin pariwisata untuk menyerukan perlindungan internasional yang lebih kuat.
The World Tourism Network, sebuah organisasi advokasi pariwisata global, mendesak Pariwisata PBB dan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengadopsi aturan yang melarang serangan terhadap infrastruktur pariwisata selama konflik.
Kelompok tersebut mengusulkan kerangka kerja yang serupa dengan perlindungan yang telah diberikan kepada rumah sakit dan organisasi kemanusiaan berdasarkan hukum internasional.
Menurut WTNInfrastruktur pariwisata yang terlindungi harus mencakup:
- hotel dan resor
- bandara sipil
- terminal pelayaran
- Situs warisan UNESCO
- museum dan situs arkeologi
- distrik wisata bersejarah
Para pendukung pariwisata berpendapat bahwa situs-situs tersebut sebagian besar bersifat sipil dan tidak seharusnya diperlakukan sebagai sasaran militer.
“Infrastruktur pariwisata mewakili pertukaran budaya, pembangunan ekonomi, dan perdamaian antar negara,” kata seorang pemimpin industri pariwisata. “Ketika tempat-tempat ini hancur, kerusakannya bukan hanya bersifat lokal—tetapi juga memengaruhi seluruh dunia.”
UNESCO menyebut penghancuran budaya sebagai kejahatan perang.
Organisasi internasional telah berulang kali mengutuk serangan terhadap warisan budaya. UNESCO telah memperingatkan bahwa penghancuran monumen bersejarah secara sengaja dapat dianggap sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum internasional.
Mantan Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova, menggambarkan penghancuran kuil-kuil Palmyra sebagai “Sebuah kejahatan perang dan kerugian bagi kemanusiaan.”
UNESCO telah mendesak para kombatan untuk menghormati Konvensi Den Haag 1954 tentang Perlindungan Kekayaan Budaya dalam Konflik Bersenjatayang mengharuskan perlindungan terhadap monumen bersejarah dan situs budaya.
Namun, penegakan hukum tetap sulit dilakukan selama konflik aktif.
Industri Bernilai Triliun Dolar dalam Bahaya
Pariwisata adalah salah satu sektor ekonomi terbesar di dunia.
Sebelum pandemi COVID-19 dan konflik baru-baru ini, pariwisata menyumbang sekitar 10 persen dari PDB global dan mendukung ratusan juta lapangan pekerjaan.
Di banyak negara—khususnya di Timur Tengah, wilayah Mediterania, dan sebagian Afrika—infrastruktur pariwisata merupakan tulang punggung perekonomian nasional.
Ketika hotel hancur, bandara ditutup, atau situs warisan budaya rusak, pemulihan dapat memakan waktu puluhan tahun. Seluruh komunitas yang bergantung pada pariwisata dapat kehilangan mata pencaharian mereka.
Masa Depan Pariwisata di Zona Perang
Pola serangan—dari Pengepungan Hotel Savoy pada tahun 1975 hingga kehancuran Palmyra dan pemboman bandara di Ukraina—menunjukkan bahwa infrastruktur pariwisata semakin rentan selama konflik.
Aksi mogok kerja baru-baru ini di sebuah hotel di Beirut telah memperbarui seruan untuk tindakan global. Para pemimpin pariwisata mengatakan bahwa komunitas internasional harus menyadari bahwa lokasi pariwisata bukan hanya aset ekonomi tetapi juga jembatan budaya yang menghubungkan orang-orang di seluruh dunia.
Tanpa perlindungan yang lebih kuat, para ahli memperingatkan, tempat-tempat yang dibangun untuk menyambut para pelancong dan melestarikan sejarah manusia mungkin akan terus muncul di garis depan perang. Dan ketika tempat-tempat itu dihancurkan, bukan hanya bangunan yang hilang—tetapi juga bagian-bagian dari warisan bersama dunia.



Tinggalkan Komentar