Seiring perang Israel-Gaza membentuk kembali aliansi politik dan sentimen publik di berbagai benua, sebuah tren yang lebih tenang namun nyata telah muncul jauh dari ruang diplomatik dunia: warga Israel secara drastis mengubah rencana perjalanan mereka. Pola-pola baru yang disorot dalam data perjalanan terbaru menunjukkan bahwa pariwisata—yang selama ini dianggap apolitis—menjadi instrumen diplomasi yang halus dan cerminan dari pergeseran loyalitas geopolitik.
Hongaria, sekutu setia Israel di bawah Perdana Menteri Viktor Orbán, telah naik dari peringkat keenam ke peringkat kedua di antara destinasi musim dingin Israel. Eropa Timur secara lebih luas telah melampaui Eropa Barat untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Alasan yang mendorong pergeseran ini bukan terletak pada biaya atau iklim, melainkan pada politik, persepsi, dan ketakutan.
Perjalanan sebagai Sinyal Diplomatik
Pemerintah selalu menggunakan kampanye pariwisata untuk menunjukkan stabilitas dan menarik investasi. Namun, di masa konflik, pariwisata berubah menjadi semacam umpan balik kekuatan lunak—sebuah referendum tentang hubungan internasional.
"Orang-orang memilih dengan paspor mereka," kata seorang analis pariwisata yang berbasis di Tel Aviv. "Mereka pergi ke tempat yang mereka rasa aman dan diinginkan, dan menjauh dari tempat yang membuat mereka merasa dihakimi atau tidak diterima."
Musim dingin ini, warga Israel memberi penghargaan kepada negara-negara yang mereka anggap suportif. Amerika Serikat melonjak dari posisi kedelapan ke posisi ketiga; Yunani, Ceko, dan Argentina—yang semuanya dianggap bersahabat secara diplomatik—menempati 10 besar.
Di sisi lain, negara-negara Eropa Barat mengalami penurunan tajam. Prancis, Jerman, Inggris, dan Spanyol—destinasi yang dulu identik dengan pasar liburan, resor ski, dan akhir pekan budaya—telah mengalami beberapa protes anti-Israel terbesar di Eropa dan peningkatan insiden antisemit yang terdokumentasi. Di mata banyak orang Israel, kombinasi tersebut telah mengubah destinasi yang dicintai menjadi destinasi yang tidak pasti.
Tindakan Penyeimbangan yang Rumit di Berlin
Satu pengecualian utama di Eropa Barat adalah Berlin, yang telah berhasil mencapai keseimbangan yang sulit dicapai oleh banyak ibu kota lainnya. Kota ini telah menyaksikan demonstrasi pro-Palestina yang besar, terkadang menegangkan dan diliput secara luas, tetapi dibarengi dengan sikap yang sama nyatanya terhadap antisemitisme. Pihak berwenang lebih cepat daripada banyak rekan mereka di Eropa untuk turun tangan ketika protes berubah menjadi retorika anti-Yahudi, dan kepemimpinan politik Berlin terus menekankan tanggung jawab historis Jerman terhadap komunitas Yahudi dan Negara Israel.
Meskipun Jerman mengalami penurunan peringkat perjalanan Israel di tingkat nasional, Berlin—tidak seperti kota-kota Barat lainnya—masih mempertahankan arus wisatawan Israel yang kecil namun stabil yang menggambarkan kota tersebut sebagai "kompleks secara politik, tetapi tetap sangat memperhatikan keamanan Yahudi." Langkah penyeimbangan ini tidak mencegah penurunan pariwisata Israel secara keseluruhan ke Jerman, tetapi telah melindungi Berlin dari penurunan reputasi yang tajam seperti yang terjadi di London, Paris, dan Madrid.
Apa yang Dianggap sebagai Antisemitisme?
Titik ketegangan utama dalam peralihan perjalanan ini adalah makna antisemitisme itu sendiri.
Definisi yang diterima secara luas

Sebagian besar lembaga internasional—termasuk IHRA (Aliansi Peringatan Holocaust Internasional)—mendefinisikan antisemitisme sebagai:
“Persepsi tertentu terhadap orang Yahudi, yang dapat diungkapkan sebagai kebencian terhadap orang Yahudi.”
Ini termasuk keduanya retorika dan fisik manifestasi yang ditujukan pada individu, lembaga, atau properti Yahudi.
Dimana perdebatan muncul
Perdebatan semakin intensif seputar Ekspresi yang berhubungan dengan Israel.
Definisi IHRA mencakup contoh-contoh kritik terhadap Israel bisa menyeberang ke antisemitisme if itu:
- menargetkan orang Yahudi secara kolektif atas tindakan Israel
- menggunakan kiasan antisemit klasik
- menolak hak orang Yahudi untuk menentukan nasib sendiri
- menerapkan standar ganda yang tidak diharapkan dari negara lain
Namun, kelompok hak asasi manusia independen, PBB, dan banyak akademisi menekankan bahwa:
- Kritik terhadap kebijakan pemerintah Israel adalah tidak, dengan sendirinya, bersifat antisemit.
- Protes terhadap tindakan militer Israel tidak secara inheren bersifat antisemit kecuali jika isinya memuat retorika anti-Yahudi yang eksplisit atau intimidasi terhadap komunitas Yahudi.
Cara pemerintah—dan publik—menetapkan batasan-batasan ini secara langsung memengaruhi rasa aman para pelancong. Hal ini juga memengaruhi persepsi orang Israel terhadap suatu negara, termasuk di mana mereka akan menghabiskan liburan.
Taruhan Diplomatik Hongaria Membuahkan Hasil
Kebangkitan dramatis Hongaria sebagai tujuan pilihan menunjukkan bagaimana postur politik dapat menghasilkan keuntungan ekonomi. Perdana Menteri Orbán telah memposisikan Budapest sebagai salah satu sekutu Eropa Israel yang paling dapat diandalkan, menolak untuk menegakkan surat perintah penangkapan ICC terhadap para pemimpin Israel dan secara konsisten memblokir resolusi Uni Eropa yang kritis terhadap Israel.
Di dalam negeri, Hongaria mengadopsi sikap tanpa toleransi terhadap antisemitisme dan—uniknya—melarang demonstrasi pro-Palestina setelah Oktober 2023. Sebuah laporan penelitian oleh Yayasan Aksi dan Perlindungan Hongaria pada tahun 2024 melaporkan tidak ada peningkatan yang terukur dalam insiden antisemit selama perang Gaza, sebuah kesimpulan yang berbeda dari peningkatan angka yang terdokumentasi di Eropa Barat.
Bagi para pelancong Israel, pesan politiknya tidak dapat dipungkiri: Hungaria adalah negara di mana mereka tidak mungkin menghadapi permusuhan.
Pariwisata sebagai Indeks Ketakutan
Perjalanan memang tak pernah sepenuhnya terpisah dari politik, tetapi perang Israel-Gaza telah membuat hubungan tersebut terasa begitu nyata. Warga Israel yang mengevaluasi perjalanan musim dingin mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tak terpikirkan beberapa tahun lalu:
- Akankah protes tersebut secara khusus menyasar warga Israel atau Yahudi?
- Akankah polisi setempat turun tangan jika terjadi insiden?
- Apakah pemerintah nasional mendukung negara saya atau mengutuknya?
Kekhawatiran ini bukan tentang probabilitas sebenarnya, melainkan tentang keamanan yang dirasakan—dan persepsi, dalam pariwisata, adalah segalanya.
Hilangnya Janji “Pariwisata Perdamaian”
Pariwisata sering dipuji sebagai jalan menuju perdamaian. Mempertemukan orang-orang dari wilayah yang berkonflik dalam kontak budaya langsung dapat membangun kepercayaan, mengurangi stereotip, dan mendorong saling ketergantungan ekonomi.
Namun dalam iklim saat ini, arus pariwisata justru memperparah garis patahan geopolitik, alih-alih menjembataninya. Negara-negara yang mengkritik operasi militer Israel kehilangan pengunjung Israel—bukan semata-mata karena tidak aman, melainkan karena retorika publik, demonstrasi, dan meningkatnya antisemitisme membentuk tingkat kenyamanan emosional.
Faktanya, wisatawan telah menjadi diplomat informal, yang mengalihkan pendapatan perjalanan hingga miliaran dolar tergantung pada tempat yang membuat mereka merasa diterima.
Cermin Dunia yang Terpecah Belah
Wisatawan Israel yang memilih Budapest daripada Berlin atau Praha daripada Paris mungkin tidak melihat diri mereka berpartisipasi dalam politik global. Namun, pilihan mereka, yang beragam di antara ratusan ribu wisatawan, mencerminkan dunia di mana politik semakin dihayati di tingkat personal.
"Pariwisata telah menjadi penanda identitas," ujar seorang spesialis soft power Eropa. "Ke mana orang pergi—atau menolak pergi—kini mencerminkan politik global sama seperti pernyataan resmi."
Saat maskapai penerbangan menambah penerbangan ke Eropa Timur dan menguranginya ke pusat-pusat di Barat, satu hal yang jelas: peta pariwisata global sedang digambar ulang, bukan oleh perusahaan perjalanan atau kampanye pemasaran, tetapi oleh kecemasan politik dunia yang sedang berperang.



Tinggalkan Komentar