Selamat Datang di eTurboNews | eTN   Klik untuk mendengarkan teks yang disorot! Selamat Datang di eTurboNews | eTN

Klik disini ijika Anda punya berita untuk dibagikan

Berita Perjalanan Iran Berita Destinasi Budaya Berita Perjalanan Terkini eTN Berita Perjalanan Unggulan Berita WTTC

Iran di Balik Berita Utama: Masyarakat, Budaya, dan Ketahanan

Azam Bahrami (Barogh), PhD
Azam Bahrami (Barogh), PhD
Ditulis oleh Juergen T Steinmetz

Sebuah refleksi mendalam dari pembaca eTN, Azam Bahrami, PhD, tentang masyarakat Iran di luar berita utama konflik. Artikel ini menyoroti budaya mereka yang berakar kuat, ketahanan, dan keramahan yang tak tertandingi, sekaligus mengeksplorasi bagaimana perjalanan dan pariwisata dapat melestarikan hubungan antarmanusia, memperkuat suara-suara yang tak terdengar, dan memastikan bahwa jutaan orang tidak dilupakan selama masa keheningan dan krisis.

Pembaca eTN, Azam Bahrami (Barogh), PhD, merasa bangga dapat berada di panggung pada perayaan ulang tahun ke-60 ITB Berlin. Ia berkata: “Merupakan suatu kehormatan untuk berbagi panggung dengan perempuan-perempuan luar biasa yang membentuk masa depan pariwisata regeneratif dan melakukan pekerjaan luar biasa dengan komunitas di seluruh dunia.”

“Saya bersyukur atas kesempatan untuk menyoroti praktik-praktik regeneratif dari Timur Tengah dan untuk menarik perhatian pada apa yang terjadi di Iran dan di seluruh wilayah tersebut.”

Di saat dunia dipenuhi dengan gambar-gambar kehancuran—bangunan yang dibom, sekolah yang hancur, dan nyawa yang direduksi menjadi statistik—sangat mudah untuk melupakan orang-orang di balik berita utama. Iran, sebuah negara yang sering kali dibingkai melalui konflik dan politik, adalah rumah bagi jutaan orang yang kemanusiaan, kehangatan, dan kekayaan budayanya sebagian besar tetap tidak terlihat.

Ketika bom berjatuhan, dan komunikasi terputus, ketika lebih dari 1,200 jam keheningan digital yang hampir total mengisolasi suatu negara dari seluruh dunia, orang-orang tidak menghilang—tetapi mereka berisiko dilupakan.

Dan mungkin itulah tragedi terbesar dari semuanya.


Di Balik Berita Utama: Rakyat Iran

Gambar
Gambar

Orang Iran bukanlah sosok abstrak. Mereka adalah penyair dan insinyur, ibu dan pelajar, seniman dan petani. Mereka adalah orang-orang yang dikenal karena kedalaman emosional mereka, ketahanan mereka, dan yang terpenting, rasa keramahan mereka yang luar biasa.

Menjadi tamu di Iran berarti diperlakukan bukan sebagai pengunjung, melainkan sebagai keluarga. Ada kode budaya yang tak terucapkan: tamu diutamakan, bahkan sebelum diri sendiri. Roti dibagikan, cerita dipertukarkan, dan waktu terasa melambat dalam kehadiran hubungan antarmanusia.

Ini bukan pertunjukan untuk turis—ini adalah identitas.

Bahkan di masa-masa sulit, kemurahan hati ini tetap ada. Ia terjalin dalam kehidupan sehari-hari, diwariskan dari generasi ke generasi, dan berakar pada salah satu peradaban tertua di dunia yang terus berlanjut. Terlepas dari pandangan politik atau jarak geografis, orang Iran memiliki kebanggaan yang mendalam terhadap warisan mereka.


Iran: Sebuah Peradaban yang Hidup Melalui Rakyatnya

Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar

Iran bukan hanya sekadar tempat di peta—ia adalah permadani hidup yang kaya akan sejarah, budaya, dan lanskap. Dari kota-kota kuno hingga gurun yang luas, dari desa-desa pegunungan hingga pulau-pulau pesisir seperti Pulau Qeshm, negara ini menceritakan kisah-kisah yang membentang ribuan tahun.

Namun warisan terbesarnya tidak hanya ditemukan dalam monumen atau reruntuhan. Warisan itu hidup dalam diri penduduknya—dalam cara mereka berbicara, menjamu tamu, memasak, merayakan, dan bertahan.

Para pelancong yang pernah mengunjungi Iran seringkali tidak membicarakan terlebih dahulu tentang tempat-tempat bersejarahnya, melainkan tentang kemanusiaannya.

Karena berwisata ke Iran bukan hanya sekadar melihat—tetapi juga merasakan.


Ketika Keheningan Menyelimuti Iran: Harga dari Keterputusan

Saat ini, jutaan warga Iran hidup dalam realitas yang ditandai dengan ketakutan, ketidakpastian, dan isolasi. Pemadaman internet telah memutuskan hubungan mereka dengan dunia, menyebabkan suara-suara tak terdengar dan kisah-kisah tak terungkap.

Gambar

Di era yang ditandai dengan komunikasi instan, keheningan seperti ini sangat mendalam.

Itu berarti:

  • Keluarga tidak mampu menenangkan orang-orang terkasih mereka di luar negeri.
  • Kisah-kisah yang tidak mampu menjangkau khalayak global
  • Individu-individu dibuat tak terlihat secara real-time.

Namun, bahkan dalam keheningan ini, kehidupan terus berlanjut. Orang-orang terus berharap, peduli, dan menolak untuk melupakan jati diri mereka.


Pariwisata sebagai Jembatan bagi Iran, Bukan Jalan Keluar

Industri perjalanan dan pariwisata memiliki kekuatan unik—yang sering diremehkan. Industri ini menciptakan hubungan antarmanusia di mana politik gagal. Industri ini membangun empati di mana rasa takut mendominasi. Industri ini mengingatkan kita bahwa di luar batas negara dan ideologi, manusia pada dasarnya sama.

Pariwisata, dalam bentuk terbaiknya, bukanlah tentang konsumsi—melainkan tentang pemahaman.

Hal ini memungkinkan para pelancong untuk:

  • Berbagi makanan dengan orang asing yang kemudian menjadi teman.
  • Saksikan keindahan dan kesulitan tanpa menyederhanakan salah satunya.
  • Sampaikan kisah-kisah lintas batas yang mungkin akan tetap tak terdengar jika tidak demikian.

Di masa-masa seperti ini, pariwisata menjadi sesuatu yang lebih tenang namun lebih ampuh: penjaga kenangan.


Identitas Iran yang Bergerak

Menjadi orang Iran saat ini berarti membawa kebanggaan sekaligus penderitaan.

Ini tentang mengenang peradaban yang membentuk dunia, sambil menavigasi masa kini yang penuh ketidakpastian. Ini tentang mempertahankan budaya, bahasa, dan koneksi—bahkan ketika terputus dari percakapan global.

Perjalanan memperdalam pemahaman ini. Perjalanan mengubah identitas dari sesuatu yang statis menjadi sesuatu yang dialami dan dirasakan.

Seperti yang diungkapkan seorang pelancong setelah perjalanannya melalui Iran, bukan hanya sejarah yang Anda temui—tetapi juga kemanusiaan dalam bentuknya yang paling nyata.


Refleksi Pribadi tentang Iran: Suara Azam Bahrami

Kemarahan

Inti dari kisah ini adalah Azam Bahrami, yang kehidupan dan karyanya mewujudkan hubungan antara manusia, tempat, dan tujuan.

Azam, seorang cendekiawan Iran yang kini berbasis di Belanda, membawa keahlian akademis dan pengalaman pribadi ke dalam perspektifnya. Dengan gelar PhD di bidang Lingkungan dan Pembangunan, yang mengkhususkan diri dalam ekowisata dan pariwisata berkelanjutan dari Universitas Nasional Malaysia, karyanya telah mencakup berbagai benua—dari Asia Tenggara hingga Eropa dan seterusnya.

Dia telah berkolaborasi dengan universitas, LSM, dan organisasi internasional, dengan fokus pada:

  • Pariwisata berbasis komunitas
  • Pembangunan dan pemberdayaan pedesaan
  • Model perjalanan berkelanjutan dan regeneratif
  • Pelestarian lingkungan dan pelestarian budaya

Kariernya bukan hanya akademis—tetapi juga sangat manusiawi. Bertahun-tahun bekerja dengan komunitas lokal dan masyarakat adat telah membentuk keyakinannya bahwa pariwisata harus inklusif, penuh hormat, dan berakar pada pengetahuan masyarakat yang diwakilinya. Namun, di luar semua kualifikasi tersebut, Azam berbicara terutama sebagai seorang Iran.

Seorang wanita yang terhubung dengan tanah airnya bukan hanya melalui kenangan, tetapi melalui cinta.


Pertanyaan yang Harus Kita Ajukan tentang Iran

Azam mengajukan pertanyaan sederhana namun mendesak:

Berapa banyak dari kita yang benar-benar menyadarinya—dan bagaimana kita menanggapinya?

Di dunia yang bergerak cepat dari satu krisis ke krisis berikutnya, perhatian mudah teralihkan. Tetapi orang tidak berhenti eksis ketika sorotan memudar.

Tanggung jawab, khususnya bagi mereka yang bergerak di bidang perjalanan dan pariwisata, bukan hanya untuk mempromosikan destinasi—tetapi juga untuk menghormati orang-orang yang mendefinisikan destinasi tersebut.


Menghadirkan Harapan dan Realita bagi Iran

Gambar
Gambar

Ada saat-saat—berdiri sendirian di pegunungan Qeshm, menyaksikan matahari terbenam di balik lanskap kuno—ketika semuanya terasa hening. Ketika hubungan dengan bumi, dengan diri sendiri, dan dengan sesuatu yang lebih besar menjadi tak terbantahkan.

Inilah momen-momen yang mengingatkan kita mengapa kita bepergian.

Bukan untuk melarikan diri dari kenyataan, tetapi untuk memahaminya lebih dalam.

Untuk melihat keindahan dan perjuangan sekaligus.
Untuk menampung kesedihan dan harapan sekaligus.
Untuk mengingat apa yang benar-benar penting.


Sebuah Pemikiran Akhir tentang Iran

Iran bukan hanya tempat yang mengalami krisis. Ini adalah tempat yang dipenuhi orang-orang—tangguh, bangga, dan sangat manusiawi.

Itu bukan angka.
Itu bukan berita utama.
Ini adalah kisah-kisah yang menunggu untuk didengar.

Tentang Penulis

Juergen T Steinmetz

Juergen Thomas Steinmetz terus bekerja di industri perjalanan dan pariwisata sejak remaja di Jerman (1977).
Dia menemukan eTurboNews pada tahun 1999 sebagai buletin online pertama untuk industri pariwisata perjalanan global.

Tinggalkan Komentar

Klik untuk mendengarkan teks yang disorot!