Puasa adalah praktik spiritual dan budaya yang mengakar kuat di kalangan diaspora India, yang dijalankan melalui berbagai tradisi keagamaan. Umat Hindu berpuasa untuk Maha Shivaratri, malam pengabdian kepada Dewa Siwa, di mana banyak yang berpuasa untuk menghindari daging dan alkohol, atau hanya mengonsumsi buah dan susu.
Umat Muslim di diaspora berpuasa selama Ramadan, berpuasa dari fajar hingga senja sebagai bentuk keimanan, disiplin, dan penyucian diri. Umat Kristen menjalani masa Prapaskah, periode 40 hari berpuasa, berdoa, dan bertobat menjelang Paskah. Terlepas dari perbedaan motivasi dan metode keagamaan, puasa di berbagai tradisi ini berfungsi sebagai sarana pembaruan spiritual, disiplin diri, dan mempererat hubungan komunitas.
Berikut kutipan dari Forum Pemimpin Pemikiran Pusat Kebudayaan Indo-Karibia (ICC) (02/03/25). Program ZOOM ini diketuai oleh Shakira Mohommed dan dimoderatori oleh Shalima Mohammed, keduanya dari Trinidad. Terdapat 4 pembicara dalam program tersebut. Topiknya adalah "Praktik Puasa di Diaspora India".
BRNI KRITIKA CHAITANYA (dari Trinidad, berasal dari Kanada) berkata: “Puasa dalam Vedanta dilihat sebagai sarana untuk memurnikan pikiran (chitta suddhi), memperkuat disiplin diri (tapas), lepaskan diri dari identifikasi jasmani, dan fokus pada kesadaran batin.

Puasa, jika dilakukan dengan pengabdian yang tulus, niat yang benar (bhava), dan pemahaman yang tepat, bermakna, bermanfaat, dan berharga bagi perkembangan seseorang. Ada banyak kontroversi seputar perempuan dalam agama Hindu, tetapi kita mempraktikkannya dari sudut pandang tertinggi – Vedanta. Gender memiliki tempat dan perannya masing-masing, tetapi dalam hal mencapai tujuan Brahman, gender tidaklah sama – niat, usaha, dan praktiklah yang menentukannya!
SULEIMAN BULBULIA (dari Barbados) berkata: “Aspek universal Ramadhan memungkinkan keragaman budaya dalam aspek praktis pemenuhan kewajiban iman. Umat Muslim diaspora India di Barbados mempertahankan banyak praktik budaya India dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Ramadhan adalah bulan suci dan sakral. Bulan ini adalah bulan untuk berdoa, beramal, dan yang terpenting, berpuasa. Bulan ini adalah bulan untuk berpuasa dari segala hal yang buruk dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Saat berpuasa dari makanan dan minuman, Anda juga menjauhi segala hal yang tidak sesuai dengan perintah Allah.
Pada akhirnya, Anda diharapkan menjadi pribadi yang lebih baik. Meskipun bersifat spiritual, puasa juga merupakan praktik fisik. Puasa membantu tubuh mengatur dirinya sendiri; alih-alih makan berlebihan, puasa membantu mengembalikan keseimbangan tubuh Anda.
Pakar ADESH MARAJ (dari Trinidad) berkata: “Setiap agama punya puasa. Dalam agama Hindu, cara berpuasa berbeda-beda di setiap tempat. Misalnya, Pitra Paksh (periode di mana kita merenungkan leluhur kita); beberapa keluarga memiliki hari tertentu dalam seminggu untuk berpuasa, biasanya ditentukan oleh tradisi; Kaamya karma (memilih untuk melakukan pooja), berpuasa selama 21 hari sebelum atau untuk pemakaman, di mana keluarga almarhum menjalani puasa selama 12-13 hari.

Ada banyak kesalahpahaman tentang puasa: misalnya, puasa berarti tidak makan. Orang-orang percaya bahwa mereka berpuasa untuk kebaikan agama. Puasa sering dianggap sebagai bentuk hukuman/penebusan dosa.
Atau apakah mereka berpuasa 'untuk menyenangkan Tuhan'? Lalu, mengapa Anda harus berpuasa? Puasa adalah pengendalian indra (yaitu, disiplin diri), terutama indra perasa yang, jika tidak terkendali, akan menghasilkan keserakahan. Puasa adalah praktik untuk membantu mengurangi ketergantungan kita pada kenikmatan eksternal.
Puasa adalah alat yang membantu umat beriman untuk melihat ke dalam diri. Puasa adalah bentuk tapasya yang menyucikan tubuh dan pikiran, yang pada dasarnya menyingkirkan gangguan. Salah satu hasil dari puasa adalah fokus mental yang lebih besar, yang menuntun kita pada pertumbuhan spiritual.
REHANA LALMAHOMED (dari Belanda, asal Suriname) berkata: “Puasa adalah salah satu dari lima rukun Islam, dan bagi seorang wanita, puasa memiliki aspek spiritual dan praktis yang unik yang membentuk kehidupan sehari-hari mereka, terutama selama bulan Ramadan. Puasa lebih dari sekadar menahan diri dari makan; puasa adalah tindakan pengabdian, disiplin diri, dan cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Puasa mendorong refleksi spiritual dan rasa syukur, menumbuhkan rasa welas asih yang lebih besar bagi mereka yang membutuhkan.

Bagi seorang perempuan, pengalaman ini memperkaya sekaligus menantang. Puasa merupakan kewajiban bagi semua Muslim, termasuk perempuan, kecuali mereka memiliki kondisi khusus yang mengharuskan mereka untuk tidak berpuasa, misalnya sedang hamil atau sakit, sedang menstruasi atau nifas, menyusui, atau di mana puasa dapat membahayakan ibu atau bayi.
Perempuan harus mengganti puasanya di lain waktu dan dianjurkan untuk melakukan doa, sedekah, dan berbagi, memastikan mereka tetap terhubung secara spiritual selama bulan suci. Keseimbangan antara pengabdian dan tanggung jawab sehari-hari dipandang sebagai ujian kesabaran dan ketabahan, yang selanjutnya meningkatkan pahala spiritual dari puasa. Puasa mendorong waktu untuk merenung dan memperbarui diri bagi perempuan.




Tinggalkan Komentar