Selamat Datang di eTurboNews | eTN   Klik untuk mendengarkan teks yang disorot! Selamat Datang di eTurboNews | eTN

Klik disini ijika Anda punya berita untuk dibagikan

Berita Industri MICE Berita Maskapai Aviation Berita Berita Perjalanan Terkini eTN Berita Perjalanan Unggulan Berita Perjalanan Jerman Berita

Maskapai Penerbangan 2050: Melampaui Kursi – Membangun Maskapai Penerbangan yang Siap Menghadapi Masa Depan

TOPI
Ditulis oleh Juergen T Steinmetz

Para pemimpin maskapai penerbangan di CAPA Airline Leader Summit – Maskapai Penerbangan dalam Masa Transisi Diskusi tersebut menguraikan bagaimana industri penerbangan harus berkembang melampaui sekadar penjualan tiket. Mulai dari keunggulan operasional hingga membangun kepercayaan, inovasi loyalitas, dan kemitraan strategis, diskusi tersebut mengungkapkan bagaimana maskapai penerbangan dapat mempersiapkan model bisnis mereka untuk masa depan dan bersaing dalam lanskap penerbangan yang semakin berpusat pada pelanggan.

Pada CAPA Airline Leader Summit di Berlin – Airlines in Transition, salah satu sesi yang paling berwawasan ke depan—“Maskapai Penerbangan 2050: Melampaui Kursi – Membangun Maskapai Penerbangan yang Siap Menghadapi Masa Depan”—menghimpun para eksekutif puncak untuk meneliti bagaimana maskapai penerbangan harus berevolusi melampaui model berbasis tempat duduk tradisional. Dimoderatori oleh Michael Bell dari Korn Ferry, panel tersebut menampilkan para pemimpin dari seluruh Eropa dan Amerika Serikat, masing-masing menawarkan perspektif yang berbeda tentang menavigasi lanskap penerbangan yang semakin kompleks.

Diskusi tersebut banyak mengacu pada dokumen resmi Korn Ferry, yang mengidentifikasi tiga pilar penting bagi maskapai penerbangan masa depan: manajemen hubungan pelanggan, ketahanan finansial, dan kemitraan strategis. Namun, seiring berjalannya percakapan, sebuah tema yang jelas muncul—sebelum maskapai penerbangan dapat berinovasi, mereka harus terlebih dahulu mengeksekusi dengan sempurna.


Keunggulan Operasional: Fondasi yang Tak Dapat Ditawar

Semua panelis sepakat pada satu poin: keandalan operasional adalah landasan kesuksesan. Greg Anderson dari Allegiant Travel Company menekankan bahwa inovasi sebesar apa pun tidak dapat menggantikan eksekusi yang buruk.

Maskapai penerbangan yang melayani pasar yang lebih kecil dan kurang sering menghadapi konsekuensi yang lebih besar ketika terjadi gangguan. Satu pembatalan saja dapat mengikis kepercayaan di seluruh komunitas. Anderson menunjuk pada keberhasilan Allegiant—dari kesulitan operasional pada tahun 2021–2022 hingga menjadi salah satu maskapai penerbangan AS peringkat teratas—sebagai bukti bahwa eksekusi yang disiplin membuahkan hasil.

Investasi dalam pemeliharaan prediktif dan sistem operasional telah menjadi inti dari perubahan ini, memastikan keandalan sekaligus mempertahankan struktur biaya rendah yang menjadi ciri khas model bisnis Allegiant.


Ketahanan Keuangan: Bertahan—dan Menang—Melalui Krisis

Pandemi COVID-19 menjadi ujian berat bagi industri penerbangan, memisahkan maskapai dengan neraca keuangan yang kuat dari yang tidak. Dimitris Gerogiannis dari Aegean Airlines menyoroti bagaimana disiplin keuangan memungkinkan kelangsungan hidup—dan bahkan pertumbuhan strategis—selama masa penurunan ekonomi.

Alih-alih melakukan PHK besar-besaran, Aegean mempertahankan staf kunci dan berinvestasi dalam kemampuan yang mempercepat pemulihannya begitu permintaan kembali. Pelajarannya, menurut Gerogiannis, jelas: likuiditas bukan hanya defensif—tetapi juga ofensif. Maskapai penerbangan dengan cadangan kas dapat berinovasi, berinvestasi, dan memposisikan ulang diri sementara para pesaing mundur.


Kepercayaan: Aset Paling Berharga—dan Paling Sulit Diwujudkan—dalam Industri Ini

Meskipun pendapatan tambahan, program loyalitas, dan kartu kredit hasil kerja sama merek telah menjadi standar di seluruh sektor, para panelis sepakat bahwa hal-hal tersebut bukan lagi faktor pembeda. Namun, kepercayaan tetap menjadi kekuatan yang unik.

“Kepercayaan tidak dapat dikomersialkan,” kata Gerogiannis, menekankan bahwa kepercayaan dibangun melalui layanan yang konsisten dan pemberdayaan karyawan. Di Aegean, staf lini depan didorong untuk menyelesaikan masalah pelanggan secara langsung, memperkuat budaya di mana kualitas layanan mendorong loyalitas jangka panjang.

Sentimen ini digaungkan di seluruh panel: maskapai penerbangan yang memberikan prediktabilitas dan keandalan akan mendapatkan pelanggan tetap—dan dengan mereka, aliran pendapatan yang lebih stabil.


Monetisasi di Luar Sekadar Kursi: Batas Persaingan Baru

Maskapai penerbangan semakin mengalihkan fokus dari penjualan tiket ke monetisasi pelanggan secara holistik. Anderson menyoroti keberhasilan Allegiant dengan pendapatan tambahan, khususnya kartu kredit bermerek bersama, yang kini mewakili sebagian besar profitabilitas.

Sementara itu, Carlos Muñoz dari Volotea menunjuk model berbasis langganan sebagai evolusi yang ampuh dalam strategi loyalitas. Program “Mega” Volotea telah menarik sekitar satu juta pelanggan, yang mencakup hingga 40% penumpang.

Berbeda dengan program frequent flyer tradisional, model berlangganan mendorong keterlibatan berkelanjutan. Pelanggan yang membayar setiap tahun lebih responsif terhadap penawaran dan komunikasi, sehingga menciptakan hubungan yang lebih dalam dan lebih dapat diprediksi.


Menggali Potensi Loyalitas yang Belum Dimanfaatkan

Meskipun program loyalitas telah diadopsi secara luas, banyak maskapai penerbangan baru memanfaatkan sebagian kecil potensi program tersebut. Joerg Michael Eberhart dari ITA Airways mengungkapkan bahwa meskipun program Volare ITA memiliki empat juta anggota, keterlibatan yang bermakna hanya mencapai kurang dari 3%.

Kesenjangan ini menghadirkan peluang besar. Seiring maskapai penerbangan menyempurnakan analitik data dan strategi personalisasi, mengubah anggota pasif menjadi peserta aktif dapat secara signifikan meningkatkan pendapatan tambahan dan nilai seumur hidup pelanggan.


Kemitraan: Dari Aliansi Komersial hingga Ekosistem Operasional

Kemitraan—yang sejak lama menjadi landasan industri penerbangan—terus berkembang dalam cakupan dan kepentingannya. Di luar aliansi dan perjanjian codeshare tradisional, maskapai penerbangan semakin mengandalkan kemitraan non-komersial untuk memberikan pengalaman pelanggan yang lancar.

Eberhart menekankan bahwa petugas penanganan darat, staf bandara, kru pemeliharaan, dan bahkan layanan darurat adalah perpanjangan dari merek maskapai penerbangan. Penumpang jarang membedakan antara maskapai penerbangan dan mitra, sehingga hubungan ini sangat penting untuk kualitas layanan secara keseluruhan.

Muñoz menambahkan bahwa kemitraan strategis antar maskapai penerbangan—seperti kolaborasi Volotea dengan ITA Airways dan Aegean Airlines—dapat membuka sinergi jaringan dan meningkatkan efisiensi, terutama di pasar regional yang kurang terlayani.


Pasar Kecil, Peluang Besar

Bagi maskapai seperti Volotea dan Allegiant, kota-kota sekunder dan tersier bukanlah batasan—melainkan keunggulan strategis. Di komunitas yang lebih kecil, maskapai dapat mencapai status "maskapai lokal", membangun hubungan yang lebih dalam dan loyalitas merek yang lebih kuat.

“Di kota-kota kecil, reputasi adalah segalanya,” jelas Muñoz. Setiap keputusan operasional menjadi sangat penting, dan setiap interaksi dengan pelanggan berkontribusi langsung pada posisi maskapai penerbangan di dalam komunitas.

Kepercayaan lokal ini menghasilkan tingkat pelanggan setia yang lebih tinggi—sebuah metrik yang menurut Anderson telah tumbuh secara dramatis di Allegiant, kini mencapai hampir 70%.


Identitas Nasional sebagai Pembeda

Seiring meningkatnya persaingan global, maskapai penerbangan juga kembali menyadari nilai identitas budaya. ITA Airways, di bawah pengaruh Lufthansa Group, memanfaatkan warisan Italia-nya untuk menciptakan pengalaman di dalam pesawat yang khas.

Mulai dari masakan Italia otentik hingga pilihan anggur yang dikurasi, tujuannya adalah untuk membenamkan penumpang dalam suasana Italia sejak saat mereka naik pesawat. Eberhart berpendapat bahwa koneksi emosional ini dapat lebih berdampak daripada penawaran mewah kelas atas, terutama bagi wisatawan internasional yang mencari pengalaman otentik.


Jalan Menuju 2050: Kepercayaan, Teknologi, dan Transformasi

Saat sesi berakhir, sebuah konsensus muncul: maskapai penerbangan tahun 2050 akan terlihat sangat berbeda—tetapi prinsip-prinsip intinya akan tetap sama.

Keunggulan operasional akan terus menjadi fondasi. Ketahanan finansial akan menentukan siapa yang akan bertahan melewati krisis berikutnya. Dan kepercayaan—yang diperoleh melalui penyampaian yang konsisten dan keterlibatan yang bermakna—akan menentukan kesuksesan jangka panjang.

Yang berubah adalah medan persaingan. Maskapai penerbangan bukan lagi sekadar penyedia transportasi; mereka menjadi platform yang berpusat pada pelanggan, memonetisasi hubungan melalui data, kemitraan, dan pengalaman yang dipersonalisasi.

Dalam lanskap yang terus berkembang ini, mereka yang berhasil mengintegrasikan keandalan, inovasi, dan koneksi antarmanusia tidak hanya akan beradaptasi—mereka akan memimpin masa depan penerbangan.

Tentang Penulis

Juergen T Steinmetz

Juergen Thomas Steinmetz terus bekerja di industri perjalanan dan pariwisata sejak remaja di Jerman (1977).
Dia menemukan eTurboNews pada tahun 1999 sebagai buletin online pertama untuk industri pariwisata perjalanan global.

Tinggalkan Komentar

Klik untuk mendengarkan teks yang disorot!