Selamat Datang di eTurboNews | eTN   Klik untuk mendengarkan teks yang disorot! Selamat Datang di eTurboNews | eTN

Klik disini ijika Anda punya berita untuk dibagikan

Berita Perjalanan Lesotho Berita Perjalanan Afrika Dewan Pariwisata Afrika Berita Perjalanan Terkini eTN Berita Perjalanan Unggulan Berita

Taruhan Lesotho di Dataran Tinggi: Dapatkah Infrastruktur Pariwisata Mengubah Kerajaan Pegunungan Menjadi Destinasi Investasi?

lesotho
Ditulis oleh Juergen T Steinmetz

Lesotho memposisikan ulang pariwisata sebagai kisah investasi yang didorong oleh infrastruktur, menggunakan proyek PPP, wisata petualangan di dataran tinggi, dan platform internasional seperti ITB Berlin untuk menarik modal. Namun, dengan ketergantungan yang besar pada pengunjung dari Afrika Selatan dan konektivitas yang terbatas, ambisi kerajaan ini bergantung pada bagaimana mengubah kedatangan wisatawan menjadi pertumbuhan pariwisata jangka panjang dan bernilai tinggi.


Dari udara, Lesotho tampak kurang seperti destinasi wisata konvensional dan lebih seperti anomali geologis — jaringan pegunungan bergerigi yang menjulang di atas dataran Afrika bagian selatan. Namun, para pembuat kebijakan di Maseru semakin melihat pegunungan tersebut bukan hanya sebagai pemandangan, tetapi sebagai aset neraca keuangan.

Selama beberapa dekade, ekonomi Lesotho sangat bergantung pada tekstil, kiriman uang dari pekerja migran, dan ekspor air melalui Proyek Air Dataran Tinggi Lesotho. Pariwisata, meskipun ada, tetap menjadi sektor sekunder — ditandai dengan penginapan kecil, wisatawan petualangan, dan arus tetap pengunjung harian dari Afrika Selatan.

Saat ini, persamaan tersebut bergeser. Para pejabat membingkai ulang pariwisata sebagai bentuk pembiayaan infrastruktur: sebuah cara untuk memobilisasi modal swasta, memperluas konektivitas regional, dan mendiversifikasi risiko ekonomi.

Ambisi tersebut sangat mencolok untuk negara dengan penduduk hanya sedikit di atas dua juta jiwa. Pertanyaannya adalah apakah tesis investasi — pariwisata petualangan khusus yang didukung oleh kemitraan publik-swasta — dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan berkelanjutan.


Pasar yang Didefinisikan oleh Geografi

Ekonomi pariwisata Lesotho berawal dari realitas struktural: hampir setiap jalan menuju negara itu melintasi pos perbatasan Afrika Selatan.

Hampir 90% pengunjung berasal dari Afrika Selatan, banyak yang datang dengan mobil untuk kunjungan singkat atau perjalanan indah melintasi jalur pegunungan tinggi.

Kedekatan ini menawarkan stabilitas sekaligus kendala. Pengunjung regional memberikan permintaan yang konsisten, tetapi dominasi pariwisata perjalanan sehari membatasi tingkat hunian hotel dan mengurangi pengeluaran keseluruhan di dalam negeri.

Wisatawan jarak jauh — khususnya dari Eropa, AS, dan sebagian Asia — mewakili segmen yang lebih kecil namun penting secara strategis, yang tertarik oleh pemandangan pegunungan Alpen, rute pendakian, dan keunikan bermain ski di Afrika bagian selatan. Para pembuat kebijakan semakin memandang wisatawan ini sebagai kunci untuk meningkatkan pengeluaran rata-rata wisatawan.


Pariwisata sebagai Pembiayaan Infrastruktur

Pendekatan Lesotho terhadap pengembangan pariwisata berbeda dari model tradisional Afrika yang dibangun di sekitar konsesi safari swasta atau gugusan resor pantai.

Sebaliknya, pemerintah menggunakan proyek pariwisata untuk memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada — khususnya bendungan, jalan dataran tinggi, dan aset energi yang awalnya dibangun untuk skema pengalihan air.

Perusahaan Pembangunan Nasional Lesotho (LNDC) dan Perusahaan Pengembangan Pariwisata Lesotho (LTDC) telah mempromosikan struktur Kemitraan Publik-Swasta (PPP) yang menggabungkan akses lahan yang difasilitasi negara dengan investasi swasta di bidang perhotelan dan atraksi wisata.

Desa Wisata Katse yang diusulkan merupakan contoh strategi ini. Direncanakan di sekitar salah satu waduk terbesar di Afrika, proyek ini bertujuan untuk menciptakan destinasi ekowisata terpadu yang menampilkan akomodasi, fasilitas konferensi, dan kegiatan rekreasi yang dirancang untuk menarik pengunjung agar tinggal lebih lama.

Bagi para pembuat kebijakan, perkembangan seperti itu bukan hanya tentang hotel-hotel individual, tetapi lebih tentang mendorong ekosistem investasi yang lebih luas — jalan raya, utilitas, dan rantai pasokan lokal yang melampaui sektor pariwisata itu sendiri.


Ekonomi Ketinggian

Sekilas, sektor pariwisata Lesotho tampak kuat: jumlah kedatangan wisatawan telah pulih dengan pesat setelah pandemi, dan posisi khusus negara ini menawarkan identitas yang berbeda dalam pasar perjalanan Afrika.

Namun data ekonomi mengungkapkan kesenjangan yang terus-menerus antara jumlah pengunjung dan penciptaan nilai.

Tantangan utamanya bersifat struktural:

  • Sebagian besar pengunjung hanya tinggal selama beberapa jam.
  • Kapasitas akomodasi masih terbatas, terutama di daerah dataran tinggi.
  • Konektivitas udara sangat minim, sehingga membatasi pertumbuhan penerbangan jarak jauh.

Ketidakseimbangan ini telah mendorong para perencana untuk fokus pada pengembangan destinasi terpadu — kumpulan pengalaman yang dirancang untuk mengubah wisatawan yang hanya singgah menjadi tamu yang menginap.

Menurut materi promosi investasi, bahkan perubahan kecil dalam rata-rata lama tinggal dapat secara signifikan meningkatkan kontribusi pariwisata terhadap PDB.


Bersaing Memperebutkan Modal di Benua yang Padat Penduduk

Ambisi pariwisata Lesotho terwujud di tengah lanskap investasi Afrika yang kompetitif.

Rwanda memposisikan dirinya sebagai destinasi konferensi dan konservasi premium. Namibia memasarkan kemewahan gurun dan penginapan ramah lingkungan. Botswana menekankan eksklusivitas safari bernilai tinggi. Dibandingkan dengan pasar-pasar ini, Lesotho menawarkan aset yang lebih sedikit dan ukuran transaksi yang lebih kecil.

Namun, para analis mencatat bahwa keterbelakangan relatif negara tersebut justru dapat menjadi daya tarik bagi investor menengah yang mencari peluang di tahap awal.

Proposal investasi ini bertumpu pada tiga pilar:

  1. Diferensiasi Niche
    Lesotho adalah satu-satunya negara yang seluruh wilayahnya berada di atas ketinggian 1,000 meter, sehingga memungkinkan negara ini untuk memasarkan pelatihan di ketinggian, olahraga musim dingin, dan pengalaman pegunungan Alpen — segmen yang sebagian besar tidak ada di tempat lain di kawasan ini.
  2. Aksesibilitas Regional
    Lokasinya di Afrika Selatan memberikan akses ke salah satu pasar perjalanan luar negeri terbesar di Afrika tanpa perlu anggaran pemasaran internasional yang besar.
  3. Kerangka Kerja Kemitraan Publik-Swasta (PPP) yang Didukung Pemerintah
    Peran aktif negara dalam memfasilitasi proyek pariwisata mengurangi hambatan masuk tertentu bagi investor swasta, meskipun juga menimbulkan pertanyaan seputar kapasitas regulasi dan pelaksanaan proyek.

Tantangan Visibilitas — dan Peran ITB Berlin

Terlepas dari letak geografisnya yang unik, Lesotho tetap relatif kurang dikenal di panggung pariwisata global. Oleh karena itu, partisipasi dalam acara perdagangan perjalanan internasional menjadi sangat penting bagi strateginya.

Lesotho Tourism Development Corporation secara historis telah terlibat dengan platform industri global untuk mempromosikan peluang investasi dan memasarkan penawaran pariwisata negara tersebut.

Keterlibatan dengan ekosistem perdagangan perjalanan Eropa — termasuk acara-acara yang terkait dengan ITB Berlin — sangat penting. Jerman mewakili salah satu pasar wisata petualangan terkuat di Eropa, dan para pembuat kebijakan memandang ITB sebagai tempat bukan hanya untuk menarik wisatawan tetapi juga untuk bertemu dengan investor infrastruktur dan operator tur khusus.

Para pengamat industri memperkirakan bahwa ekspektasi seputar partisipasi terkait ITB meliputi:

  • Meningkatkan kesadaran di kalangan operator penerbangan keluar Eropa
  • Memposisikan proyek pariwisata PPP kepada investor internasional
  • Memperluas kemitraan dengan badan pariwisata regional.

Bagi destinasi kecil, tantangannya adalah visibilitas — bersaing untuk mendapatkan perhatian di antara raksasa pariwisata global sambil mengkomunikasikan narasi investasi yang jelas.


Kendala Infrastruktur dan Risiko Kedaulatan

Meskipun prospek investasi Lesotho tampak menarik di atas kertas, risiko pelaksanaannya tetap ada.

Keterbatasan infrastruktur — mulai dari kondisi jalan di daerah pegunungan terpencil hingga kapasitas penerbangan yang terbatas — dapat meningkatkan biaya operasional dan menghalangi investor institusional yang terbiasa dengan pasar yang sudah mapan.

Pertimbangan mata uang dan risiko kedaulatan juga memengaruhi keputusan investasi. Sebagai anggota Area Moneter Bersama, mata uang Lesotho dipatok terhadap rand Afrika Selatan, yang memberikan stabilitas relatif tetapi mengaitkan kinerja ekonomi secara erat dengan nasib negara tetangganya.

Stabilitas politik secara umum telah membaik, namun investor terus mengamati reformasi tata kelola dan konsistensi regulasi dengan cermat.


Industri Kreatif dan Pariwisata Komunitas: Ekonomi Paralel

Selain pembiayaan infrastruktur, Lesotho juga menjajaki bagaimana industri kreatif — kerajinan tangan, musik, penceritaan budaya, dan pariwisata warisan budaya — dapat meningkatkan pengalaman pengunjung dan mendistribusikan manfaat ekonomi secara lebih luas.

Inisiatif-inisiatif ini sejalan dengan tren global menuju wisata pengalaman, di mana keaslian dan pengalaman budaya yang mendalam memiliki nilai yang sama pentingnya dengan akomodasi mewah.

Bagi masyarakat pedesaan, pariwisata merupakan jalan untuk berpartisipasi dalam pasar global tanpa perlu pengembangan industri skala besar — ​​sebuah argumen yang sering dikemukakan oleh para pembuat kebijakan yang mempromosikan investasi berkelanjutan.


Bisakah Lesotho Menulis Ulang Narasi Pariwisatanya?

Strategi pariwisata kerajaan pada akhirnya bergantung pada transisi yang rumit: berkembang dari tujuan wisata regional menjadi destinasi dengan daya tarik tersendiri.

Keberhasilan akan bergantung pada beberapa faktor:

  • Menghadirkan proyek-proyek PPP unggulan yang menunjukkan kepercayaan investor.
  • Meningkatkan kesadaran internasional melalui pameran dagang dan kemitraan.
  • Meningkatkan konektivitas infrastruktur tanpa mengorbankan integritas lingkungan.

Berbeda dengan negara-negara Afrika lainnya yang memiliki perekonomian pariwisata yang lebih besar, Lesotho kemungkinan besar tidak akan mengejar pertumbuhan pasar massal. Keunggulan komparatifnya terletak pada skala, keaslian, dan ketinggian—menawarkan pengalaman yang tidak mudah ditiru di tempat lain di benua ini.


Pendakian yang Lambat

Saat ini, sektor pariwisata Lesotho berada di titik perubahan. Faktor-faktor fundamental—peningkatan jumlah kedatangan wisatawan, dukungan pemerintah, dan letak geografis yang unik—menunjukkan potensi yang besar. Namun, mengubah potensi tersebut menjadi arus masuk modal yang berkelanjutan akan membutuhkan kesabaran, konsistensi kebijakan, dan keberhasilan pelaksanaan proyek-proyek awal.

Tentang Penulis

Juergen T Steinmetz

Juergen Thomas Steinmetz terus bekerja di industri perjalanan dan pariwisata sejak remaja di Jerman (1977).
Dia menemukan eTurboNews pada tahun 1999 sebagai buletin online pertama untuk industri pariwisata perjalanan global.

Tinggalkan Komentar

Klik untuk mendengarkan teks yang disorot!