Ketika Hyatt Hotels Corporation mengumumkan rencana untuk membangun Hyatt Ziva Punta CanaBagi Hyatt, sebuah resor all-inclusive yang berfokus pada keluarga dengan 650 kamar di Republik Dominika, berita ini bukan hanya tentang pengembangan hotel Karibia lainnya. Ini mewakili babak terbaru dalam transformasi strategis yang telah membentuk kembali Hyatt — dan industri perhotelan global — selama dekade terakhir.
Perusahaan yang berbasis di Chicago ini bertaruh besar pada model resor all-inclusive, membangun portofolio yang kini tersebar di Meksiko, Jamaika, Republik Dominika, Kosta Rika, dan Eropa. Strategi ini dirancang untuk merebut pangsa pasar perjalanan wisata global yang terus meningkat — tetapi juga menempatkan Hyatt dalam persaingan langsung dengan raksasa industri seperti Marriott International dan Hilton Worldwide.
Di balik derek konstruksi dan pembangunan tepi pantai, tersembunyi persaingan korporasi yang lebih dalam: perlombaan untuk mendominasi segmen perjalanan wisata yang paling menguntungkan sekaligus membentuk kembali cara wisatawan membelanjakan uang di destinasi resor.
Munculnya resor-resor mega mengubah perekonomian pariwisata dari Cancun hingga Jamaika — dan memunculkan pertanyaan baru tentang apakah masyarakat setempat benar-benar mendapat manfaat dari ledakan tersebut.
Pergeseran Strategis Hyatt Menuju Resor All-Inclusive
Sepanjang sejarahnya, Hyatt dikenal luas sebagai hotel mewah perkotaan dan properti untuk perjalanan bisnis. Namun strategi itu mulai berubah pada awal tahun 2020-an ketika perusahaan tersebut mengambil langkah berani memasuki bidang pariwisata resor.
Titik balik terjadi dengan Hyatt. Akuisisi Apple Leisure Group pada tahun 2021, sebuah operator liburan besar yang portofolionya mencakup merek-merek seperti Secrets, Dreams, Breathless, dan Zoëtry. Kesepakatan ini langsung memperluas jejak Hyatt di sektor all-inclusive dan memberi perusahaan akses ke jaringan distribusi global paket liburan dan agen perjalanan.
Saat ini, Hyatt's Koleksi Inklusif mencakup lebih dari 100 resor di seluruh dunia dan terus berkembang melalui kemitraan dan akuisisi.
Strategi tersebut sudah mulai menunjukkan hasil.
Hyatt melaporkan bahwa properti all-inclusive-nya mencatat pertumbuhan kinerja terkuat di antara portofolio perusahaan, dengan segmen tersebut mengalami peningkatan. Pertumbuhan pendapatan per kamar yang tersedia sebesar 8.6 persen pada tahun 2025..
Hotel dan resor mewah juga turut mendorong pendapatan secara keseluruhan, yang mencapai angka tertentu. $1.79 miliar pada kuartal terakhir, dengan peningkatan yang signifikan dalam permintaan kegiatan rekreasi.
Namun, ekspansi Hyatt bukan sekadar menambah lebih banyak resor. Ini adalah bagian dari transformasi perusahaan yang lebih luas yang bertujuan untuk meningkatkan profitabilitas sekaligus mengurangi risiko keuangan.
Strategi “Ringan Aset” Membentuk Kembali Industri Perhotelan
Salah satu elemen kunci dari model bisnis Hyatt adalah apa yang oleh analis industri disebut sebagai strategi aset ringan.
Alih-alih memiliki sebagian besar hotelnya sendiri, Hyatt berfokus pada pengelolaan atau pemberian waralaba properti yang dimiliki oleh pengembang dan kelompok investasi. Perusahaan ini mengumpulkan biaya manajemen dan royalti merek sambil menghindari biaya modal tinggi yang terkait dengan kepemilikan properti.
Strategi ini telah mengalami percepatan dramatis dalam beberapa tahun terakhir.
Hyatt telah menjual properti hotel senilai miliaran dolar dan menginvestasikan kembali hasilnya ke dalam pengembangan merek, akuisisi, dan teknologi. Pada tahun 2027, perusahaan memperkirakan... sekitar 90 persen pendapatannya akan berasal dari operasi yang minim aset., menurut dokumen perusahaan.
Pergeseran ini memiliki beberapa keuntungan.
Pertama, hal ini memungkinkan Hyatt untuk berekspansi lebih cepat ke destinasi baru tanpa mengikat modal pada lahan dan bangunan. Kedua, hal ini memberikan pendapatan yang stabil melalui kontrak manajemen jangka panjang yang dapat berlangsung selama beberapa dekade.
Model ini juga mencerminkan tren industri yang lebih luas.
Grup hotel besar — termasuk Marriott, Hilton, dan InterContinental Hotels Group — semakin banyak mengadopsi struktur aset ringan karena memungkinkan ekspansi global yang lebih cepat dan pengembalian investasi yang lebih tinggi.
Hyatt vs Marriott vs Hilton: Strategi yang Bersaing
Meskipun memiliki model bisnis yang serupa, tiga perusahaan hotel terbesar di Amerika telah mengadopsi strategi yang berbeda dalam persaingan untuk mendominasi perjalanan global.
Marriott: Skala dan Kekuatan Merek
Dengan lebih dari 9,000 hotel dan sekitar 30 merek di seluruh duniaMarriott tetap menjadi perusahaan hotel terbesar di planet ini.
Strateginya berfokus pada skala. Melalui akuisisi seperti Starwood Hotels pada tahun 2016, Marriott membangun portofolio besar yang mencakup segmen mewah, premium, dan ekonomis.
Program loyalitas perusahaan, Marriott Bonvoy, telah berkembang menjadi hampir 260 juta anggota, sehingga Marriott memiliki salah satu basis data pelanggan terkuat di industri perjalanan. Namun, hanya klien yang memesan langsung melalui Aplikasi Bonvoy yang mendapatkan manfaat.
Skala ini memberikan keunggulan kompetitif utama: para pelancong yang mengumpulkan poin loyalitas seringkali tetap berada dalam ekosistem Marriott di berbagai perjalanan.
Namun, Marriott memasuki pasar all-inclusive lebih lambat daripada Hyatt. Meskipun perusahaan tersebut kini mengoperasikan beberapa resor all-inclusive di bawah merek seperti Autograph Collection dan The Luxury Collection, portofolionya di segmen ini tetap lebih kecil daripada Hyatt.
Hilton: Jangkauan Global dan Pertumbuhan Waralaba
Hilton, dengan lebih dari 7,500 hotel di seluruh duniaSecara historis, perusahaan ini menekankan sistem waralaba dan properti skala menengah seperti Hampton by Hilton dan Hilton Garden Inn.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Hilton telah bergerak agresif ke Karibia dan Meksiko dengan resor all-inclusive seperti Hilton Cancun dan Hilton Tulum.
Strategi Hilton berfokus pada pemanfaatan asetnya. Program loyalitas Hilton Honors dan jaringan distribusi global untuk menarik wisatawan yang mencari paket liburan sederhana.
Secara finansial, perusahaan tetap kuat, seperti yang dilaporkan. Pendapatan kuartalan sebesar $2.70 miliar dengan biaya waralaba dan lisensi yang terus meningkat.
Namun, prospek pertumbuhan Hilton menghadapi tantangan di tengah ketidakpastian ekonomi, yang mendorong perusahaan untuk menurunkan ekspektasi pendapatannya di beberapa pasar.
Hyatt: Kualitas Lebih Penting daripada Kuantitas
Hyatt mengoperasikan properti yang lebih sedikit daripada Marriott atau Hilton, tetapi telah menciptakan ceruk pasar di segmen mewah dan kelas atas.
Strategi merek perusahaan berfokus pada pengalaman yang dipilih secara cermat dan keramahan kelas atas, bukan pada skala semata.
Rumah Hyatt Dunia Hyatt Program loyalitas ini banyak dipuji oleh para pelancong yang sering bepergian karena tingkat penukaran poin yang menguntungkan dan manfaat bagi para elite, namun hanya tamu yang memesan Hyatt langsung melalui aplikasi World of Hyatt yang menerima manfaat tersebut.
Yang lebih penting lagi, Hyatt telah bergerak lebih cepat daripada para pesaingnya dalam membangun jaringan resor all-inclusive — memberikannya posisi kepemimpinan di segmen yang terus berkembang pesat.
Karibia: Pusat Ekspansi Resor
Karibia telah menjadi pusat perhatian dari booming paket wisata all-inclusive.
Destinasi seperti Riviera Maya di Meksiko, Montego Bay di Jamaika, dan Punta Cana di Republik Dominika menawarkan kondisi ideal untuk pengembangan resor: sinar matahari yang andal, koneksi penerbangan internasional yang kuat, dan lahan tepi pantai yang luas.
Faktor-faktor ini telah mendorong perusahaan hotel untuk membangun kompleks resor besar yang mampu menampung ribuan tamu sekaligus.
Dalam banyak kasus, resor-resor tersebut berfungsi sebagai ekosistem liburan yang mandiri.
Para tamu tiba di bandara, diantar langsung ke resor, dan menghabiskan sebagian besar waktu mereka di dalam properti — bersantap, minum, dan berpartisipasi dalam berbagai aktivitas tanpa meninggalkan area hotel.



Tinggalkan Komentar