Dari kota pelabuhan yang direvitalisasi hingga instalasi seni kontemporer di pulau-pulau terpencil, Setouchi mewujudkan gerakan Jepang yang berkembang menuju “perjalanan lambat”—perjalanan yang mengutamakan koneksi, refleksi, dan pembaruan daripada kecepatan.
Merevitalisasi Tradisi: Kanal Bersejarah Kurashiki dan Kerajinan Lokal

Di Prefektur Okayama, Kawasan Bersejarah Kurashiki Bikan menawarkan contoh nyata kemampuan Jepang untuk melestarikan tradisi sekaligus mendorong pembaruan kreatif. Kurashiki, yang dulunya merupakan kota pedagang makmur pada zaman Edo, telah menyulap gudang-gudang berdinding putihnya menjadi galeri seni, hotel butik, dan studio kerajinan.
The Museum Seni Ohara, museum seni Barat pertama di Jepang, menjadi pusat distrik ini dengan karya-karya Monet, El Greco, dan modernis Jepang. Toko-toko di sekitarnya mempromosikan Mingei (kerajinan rakyat) filosofi—menjembatani keterampilan lokal dan desain kontemporer dalam tekstil, barang pecah belah, dan keramik.
Penyembuhan di Alam: Yunogo Onsen dan Bukit Zaitun Shodoshima
Penawaran kesehatan Setouchi jauh melampaui kota pemandiannya yang terkenal. Pemandian Air Panas Yunogo (Prefektur Okayama), yang dikenal sejak era Heian sebagai "Mata Air Panas Keindahan", para wisatawan berendam di air kaya mineral yang dulunya dikunjungi oleh para biksu dan samurai. Penginapan ryokan di area ini kini memadukan terapi onsen tradisional dengan jalan-jalan di hutan dan hidangan kaiseki lokal.
Di seberang Laut Pedalaman, Pulau Shodoshima—“Pulau Zaitun” Jepang—menawarkan pengalaman pemulihan yang berbeda. Taman Zaitun Shodoshima mengundang pengunjung untuk berjalan-jalan melewati kebun yang menghadap ke laut, mencicipi minyak zaitun, dan menginap di vila bergaya Mediterania yang mempromosikan kehidupan berbasis tanaman dan sadar lingkungan.
Seni dan Arsitektur: Kepulauan Teshima dan Inujima
Meskipun Naoshima sering menjadi berita utama di kancah seni di wilayah tersebut, pulau-pulau saudaranya Teshima ke Inujima telah menjadi simbol kuat tentang bagaimana seni dapat mengubah masyarakat pedesaan.
The Museum Seni Teshima, yang dirancang oleh Ryue Nishizawa dan seniman Rei Naito, tampak seperti setetes air yang berada di lereng bukit. Di dalamnya, pengunjung akan menemukan lingkungan yang terus berubah di mana air, cahaya, dan udara menciptakan pengalaman sensorik yang meditatif.
On Inujima, yang Museum Seni Seirensho—dibangun dari reruntuhan kilang tembaga—mengubah warisan industri menjadi sebuah pernyataan lingkungan. Didukung oleh energi surya dan biomassa, situs ini mewakili keseimbangan Setouchi antara inovasi, ekologi, dan budaya.
Kesehatan Melalui Lanskap: Tomonoura dan Gunung Misen
Lanskap pesisir dan pegunungan Setouchi menyediakan tempat perlindungan alami untuk introspeksi. Kota tepi laut Tomonoura di Prefektur Hiroshima—diyakini telah menginspirasi Studio Ghibli Ponyo—mengundang penjelajahan lambat melalui pelabuhan nelayan, penginapan tradisional, dan kuil dengan pemandangan laut.
Sementara itu, Gunung Misen di Pulau Miyajima menawarkan jalur panorama yang dinaungi hutan cedar dan kuil-kuil kuno. Puncak gunung, yang dapat diakses dengan kereta gantung atau hiking, merupakan bagian dari Taman Nasional Setonaikai dan dihormati sebagai situs peremajaan rohani selama lebih dari tahun 1,000.
Menuju Masa Depan yang Sadar
Ketika Jepang menata ulang pariwisata di luar pusat kotanya, Setouchi berdiri di garis depan perjalanan yang bertujuan—tempat seni, warisan budaya, dan alam bertemu untuk membina pengunjung dan komunitas lokal. Inisiatif regional seperti Program pariwisata berkelanjutan DMO Setouchi dan kemitraan dengan grup perhotelan global terus memposisikan Laut Pedalaman sebagai cetak biru bagi era eksplorasi sadar Jepang berikutnya.



Tinggalkan Komentar