Serangan teroris mematikan di Pantai Bondi, Sydney, telah mengguncang jauh di luar Australia, dan menimbulkan pertanyaan mendesak bagi berbagai destinasi di seluruh dunia: Apa ancaman nyata yang masih ditimbulkan ISIS terhadap perjalanan dan pariwisata pada tahun 2025—dan seberapa siapkah otoritas pariwisata untuk menanggapinya?
Para pejabat Australia menggambarkan penembakan di Pantai Bondi, yang menargetkan acara perayaan Hanukkah dan menewaskan sedikitnya 15 orang, sebagai sebuah serangan teroris anti-Semit dengan indikasi adanya inspirasi ekstremis. Para penyidik sedang memeriksa pergerakan para tersangka di luar negeri dan pengaruh ideologis mereka, termasuk kemungkinan terpapar propaganda ISIS.
Meskipun ISIS tidak lagi menguasai wilayah seperti dulu di Irak dan Suriah, para ahli keamanan sepakat bahwa kelompok tersebut masih memiliki potensi untuk bertahan hidup. tidak menghilangSebaliknya, hal ini telah berkembang menjadi ancaman terdesentralisasi yang didorong oleh ideologi, mampu memicu kekerasan jauh dari zona konflik tradisional—dan semakin fokus pada target sipil yang mudah diserang yang mendefinisikan pariwisata modern.
Dari Kekhalifahan ke Massa: Lanskap Ancaman yang Berubah
Satu dekade setelah kebangkitan ISIS, ancaman terhadap pariwisata bukan lagi hanya tentang serangan di zona perang. Ini tentang... tempat umum yang ramai: pantai, festival, tempat berjalan-jalan, pasar, bandara, hotel, dan acara keagamaan atau budaya—ruang-ruang yang dirancang agar terbuka, ramah, dan sulit diamankan tanpa mengganggu pengalaman pengunjung.
Serangan di Bondi menggarisbawahi realitas yang menyedihkan bagi para pemimpin pariwisata: tidak ada destinasi yang kebalTerlepas dari letak geografis, stabilitas politik, atau perkembangan ekonomi. Kekerasan yang dimotivasi oleh ideologi saat ini seringkali hanya membutuhkan sumber daya minimal, koordinasi terbatas, dan tidak ada struktur komando langsung—hanya inspirasi.
Satu Dekade Serangan ISIS yang Membentuk Risiko Pariwisata
Sejak tahun 2015, serangan yang dipengaruhi ISIS telah berulang kali menunjukkan bagaimana terorisme dapat mengubah arus perjalanan dalam semalam:
- Tunisia (2015) – Serangan di resor pantai menewaskan 38 wisatawan dan menyebabkan penurunan drastis pariwisata mancanegara
- Paris (2015) – Serangan terkoordinasi terhadap tempat-tempat umum menyebabkan penurunan tajam jumlah pengunjung.
- Brussel (2016) – Serangan bom di bandara dan metro mengganggu jaringan penerbangan Eropa.
- Istanbul (2016) – Serangan bom bunuh diri di bandara menghancurkan kepercayaan pengunjung
- Barcelona (2017) – Serangan kendaraan di Las Ramblas mengungkap kerentanan zona pejalan kaki
- Sri Lanka (2019) – Pengeboman hotel dan gereja menewaskan lebih dari 250 orang dan melumpuhkan sektor pariwisata
- Australia (2025) – Serangan di Pantai Bondi kembali memicu kekhawatiran global tentang perlindungan terhadap target yang tidak rentan.
Setiap kejadian memperkuat pelajaran yang sama: Dampak ekonomi terorisme terhadap pariwisata seringkali berlangsung lebih lama daripada serangan itu sendiri..
WTN Seruan Aksi untuk Keselamatan & Ketahanan

Pariwisata tidak dapat berkembang tanpa keamanan — dan keamanan tidak dapat diimprovisasi.
Dr. Peter Tarlow, presiden dari World Tourism Network (WTN) dan seorang pakar keselamatan dan keamanan yang terkenal di dunia, menyerukan kepada dewan pariwisata, pemerintah kota, dan para pemimpin industri untuk memperlakukan keselamatan dan ketahanan destinasi sebagai tanggung jawab inti pariwisata, bukan sebagai respons darurat..
Apa WTN Mendesak Destinasi Wisata untuk Bertindak Sekarang:
✔ Mengintegrasikan pariwisata ke dalam perencanaan keamanan nasional dan kota.
Acara pariwisata, objek wisata, dan puncak musiman harus dimasukkan dalam strategi keamanan sejak awal.
✔ Lindungi target lunak tanpa merusak pengalaman pengunjung.
Desain yang cerdas, manajemen keramaian, dan personel pariwisata yang terlatih lebih efektif daripada militerisasi yang terlihat.
✔ Memberdayakan UKM dan pekerja garda depan
Hotel, pemandu wisata, penyedia transportasi, dan tempat wisata adalah garda terdepan—pelatihan menyelamatkan nyawa.
✔ Koordinasikan komunikasi krisis sebelum krisis terjadi.
Pesan yang saling bertentangan merusak kepercayaan. Destinasi membutuhkan protokol komunikasi yang telah disepakati sebelumnya.
✔ Membangun ketahanan dalam pencitraan destinasi.
Destinasi yang siap siaga pulih lebih cepat. Keamanan dan kesiapan kini menjadi bagian dari daya saing.
Apa WTN Ingin WTTC, Pariwisata PBB, GTRCMC untuk Melakukan
WTN mendorong destinasi wisata, kementerian pariwisata, dan pemangku kepentingan sektor swasta untuk berkolaborasi dalam kerangka kerja keselamatan yang praktis dan terukur yang melindungi pengunjung sekaligus menjaga keterbukaan dan pertukaran budaya. WTN siap bergabung dengan Gugus Tugas, WTTC, UN-Tourism, atau Global Tourism Resilience and Crisis Management Centre (GTRCMC) yang mungkin akan dibentuk.
Jalan di Depan: Ini Sangat Penting1
Tragedi Pantai Bondi adalah pengingat yang jelas bahwa ISIS tidak membutuhkan wilayah untuk mengancam perjalanan dan pariwisata. Ideologi, radikalisasi daring, dan kekerasan oportunistik sudah cukup.
Bagi industri pariwisata global, tantangannya jelas: melindungi pengunjung tanpa mengubah destinasi menjadi benteng, menginformasikan wisatawan tanpa menyebarkan rasa takut, dan merespons dengan tegas tanpa membiarkan kelompok ekstremis menentukan narasi.
Pada tahun 2025, ketahanan pariwisata bukan lagi pilihan. Ini penting.



Tinggalkan Komentar