Airlines Bandara Penerbangan Berita Terbaru Indonesia Berita Internasional Terbaru Breaking Travel News Berita keselamatan Pariwisata Transportasi Pembaruan Tujuan Perjalanan Rahasia Perjalanan Berita Kawat Perjalanan Berbagai Berita

Kecelakaan Pesawat Penumpang di Indonesia

Pilih bahasa Anda
siwirr
siwirr
Ditulis oleh Juergen T Steinmetz

62 penumpang dan awak pesawat diduga tewas setelah penerbangan Sriwijaya Air # SJ182 a 737-500 (klasik pesawat jet berbadan sempit) menghilang dalam penerbangan domestik pada Sabtu sore. Pesawat kehilangan lebih dari 10,000 kaki dalam waktu kurang dari 60 detik dan puing-puing telah ditemukan di daerah tersebut.

Cetak Ramah, PDF & Email

Sriwijaya Penerbangan udara # SJ182 adalah 737-500 (jet maskapai berbadan sempit klasik) - pesawat yang dimaksud berusia 26 tahun. Maskapai ini memiliki sertifikasi keselamatan tertinggi di Indonesia.

Juru bicara Kementerian Perhubungan Indonesia Adita Irawati mengatakan Boeing 737-500 lepas landas dari Jakarta sekitar pukul 1 dan hilang kontak dengan menara kendali pada pukul 56:2.

Pesawat kehilangan ketinggian lebih dari 10,000 kaki dalam waktu kurang dari 60 detik, menurut Flightradar24

Sebuah jet penumpang Sriwijaya Air yang membawa 62 orang kehilangan kontak dengan pengawas lalu lintas udara setelah lepas landas dari ibu kota Indonesia pada hari Sabtu dalam penerbangan domestik, kata para pejabat.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh maskapai mengatakan pesawat itu dalam penerbangan sekitar 90 menit dari Jakarta ke Pontianak, ibu kota provinsi Kalimantan Barat di pulau Kalimantan, Indonesia. Ada 56 penumpang dan enam awak pesawat.

Puing-puing telah ditemukan di daerah tempat operasi pencarian dan penyelamatan untuk penerbangan Sriwijaya Air SJ182, tetapi tidak ada kepastian bahwa puing-puing itu milik pesawat Boeing 737 tersebut.

Komisi keselamatan penerbangan negara mengatakan sedang waspada dan menteri perhubungan sedang dalam perjalanan ke bandara internasional di Jakarta. Kapal patroli terlihat di perairan barat laut Jakarta tempat pesawat itu terakhir kali terlihat, kata Badan Pencarian dan Penyelamatan Nasional Indonesia.

Sriwijaya Air adalah sebuah maskapai penerbangan Indonesia yang berbasis di Jakarta dengan kantor pusat berlokasi di Area M1 Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, dekat Jakarta.

Pada tahun 2007, Sriwijaya Air menerima penghargaan Boeing International Award for Safety and Maintenance of aircraft, yang diberikan setelah melewati pemeriksaan yang dilakukan selama beberapa bulan. Di tahun yang sama Sriwijaya Air menerima Aviation Customer Partnership Award dari Pertamina. Pada tahun 2008, Sriwijaya Air dianugerahi penghargaan dari Markplus & Co., yang menandakan apresiasi publik atas layanan yang diberikan oleh Sriwijaya Air. Pada Agustus 2015, Sriwijaya Air juga mendapatkan Sertifikasi BARS (Basic Aviation Risk Standard) yang dikeluarkan oleh Flight Safety Foundation. Pemeliharaan pesawat dilakukan oleh PT. ANI (Aero Nusantara Indonesia), AiRod Sdn Bhd dan Garuda Indonesia Maintenance Facility (GMF AeroAsia).

Sriwijaya Air adalah maskapai penerbangan terbesar ketiga di Indonesia, mengoperasikan armada pesawat berbadan sempit, dan menawarkan penerbangan ke berbagai tujuan Indonesia dan beberapa tujuan internasional. Maskapai ini terdaftar sebagai maskapai Kategori 1 oleh Otoritas Penerbangan Sipil Indonesia, status tertinggi yang dapat diraih untuk keselamatan operasional.

Pada tahun 2003, Sriwijaya Air didirikan oleh Chandra Lie, Hendry Lie, Andi Halim dan Fandy Lingga, yang menamainya sesuai dengan sejarah kerajaan Sriwijaya. Pada tahun yang sama, pada 28 April, memperoleh izin usahanya, sedangkan AOC (Air Operator's Certificate) diterbitkan akhir tahun itu pada 28 Oktober. Mulai beroperasi pada 10 November 2003, maskapai ini pada awalnya meluncurkan penerbangan antara Jakarta dan Pangkal Pinang, sebelum memperkenalkan rute baru seperti Jakarta-Pontianak dan Jakarta-Palembang. Pada tahun pertamanya, Sriwijaya Air mengalami pertumbuhan yang pesat, dan pada Juni 2009, Sriwijaya Air telah mengoperasikan 23 pesawat, melayani lebih dari 33 rute domestik dan 2 rute internasional.

Pada Paris Air Show 2011, Sriwijaya Air setuju untuk membeli 20 jet Embraer 190, dengan hak beli 10 lebih. Namun, maskapai tersebut membatalkan rencananya untuk mengoperasikan Embraer 190 tak lama kemudian, malah memutuskan untuk menggunakan pesawat 737 yang sudah dimilikinya.

Pada tahun 2011, maskapai ini mulai menyewa 12 Boeing 737-500 bekas dengan nilai total $ 84 juta untuk menggantikan pesawat Boeing 737-200 yang sudah tua, dengan pengiriman antara April dan Desember 2011.

Saat ini Sriwijaya Air sedang dalam proses untuk menghentikan seluruh armada 737 Classic dengan Boeing 737-800. Telah dilakukan pengiriman 2 unit pesawat tersebut pada tahun 2014, 6 737-800 pada tahun 2015 dan berencana untuk mengakuisisi hingga 10 pesawat lagi pada tahun 2016. Dalam Paris Airshow 2015, Sriwijaya Air juga menandatangani pemesanan 2 unit 737-900ER dengan opsi pembelian mengakuisisi hingga 20 unit Boeing 737 MAX. Kesepakatan ini merupakan kali pertama bagi Sriwijaya Air menerbangi pesawat anyar setelah hampir 12 tahun beroperasi di Indonesia. Pesawat ini menerima pengiriman Boeing 737-900ER pertama dan kedua pada 23 Agustus 2015.

Per November 2015 (untuk NAM Air sejak dibentuk pada 2013), hanya Sriwijaya Air dan NAM Air di Indonesia yang mengizinkan pramugari wanita mengenakan hijab di semua penerbangan reguler, dan termasuk di antara maskapai penerbangan di Asia Tenggara yang mengizinkan bersama Royal Brunei Airlines dan Rayani Air. Maskapai lain di Indonesia diketahui hanya mengizinkan pramugari perempuannya menggunakan hijab saat mengoperasikan penerbangan Haji / Umrah atau penerbangan ke Timur Tengah khususnya ke Arab Saudi.

Pada November 2018, Garuda Indonesia melalui anak usahanya Citilink mengambil alih operasi dan pengelolaan keuangan Sriwijaya Air melalui perjanjian kerja sama (KSO).

Pada 8 November 2019. Perjanjian Kerja Sama (KSO) antara Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air diakhiri, ditandai dengan dimulainya kembali peralatan dinas darat Sriwijaya Air yang semula disimpan selama Perjanjian Kerja Sama (KSO) sedang berlangsung. Ini karena PT. GMF Aero Asia .Tbk dan PT. Gapura Indonesia. Tbk sebagai anak perusahaan dari Garuda Indonesia Grup secara sepihak menghentikan pelayanan kepada penumpang Sriwijaya Air dan menyebabkan berbagai keterlambatan serta penumpang terlantar karena Sriwijaya Group tidak membayar tunai kepada Garuda Indonesia Group untuk penyediaan fasilitas pelayanan tersebut.

Saat ini, Sriwijaya Air masuk dalam kategori Medium Service Airline yang hanya menyajikan makanan ringan. Sriwijaya Air telah merencanakan ekspansi menjadi maskapai layanan penuh, yang diharuskan memiliki setidaknya 31 pesawat dengan kursi kelas bisnis dan makanan untuk penumpang. Namun, hingga 2015, maskapai ini belum mencapai tujuannya

Cetak Ramah, PDF & Email

Tentang Penulis

Juergen T Steinmetz

Juergen Thomas Steinmetz terus bekerja di industri perjalanan dan pariwisata sejak remaja di Jerman (1977).
Dia menemukan eTurboNews pada tahun 1999 sebagai buletin online pertama untuk industri pariwisata perjalanan global.